Kamis, 05 Februari 2015

KEBUDAYAAN BANJAR II

UPACARA MANDI KEHAMILAN

1.Usaha Mendapatkan Keselamatan


Dalam masyarakat Banjar yang masih terikat akan tradisi lama, apabila seorang wanita yang sedang hamil untuk pertama kalinya, ketika usia kehamilan mencapai usia tertentu seperti 3 bulan, 7 bulan, 9 bulan maka akan diselenggarakan suatu upacara dengan maksud untuk mendapat keselamatan. Karena menurut kepercayaan sebagian masyarakat Banjar, bahwa wanita yang sedang hamil tersebut suka di ganggu makhluk-makhluk halus yang jahat.

Wanita yang hamil pertama kali harus di upacara mandi, keharusan melakukan upacara mandi hamil ini konon hanyalah berlaku bagi wanita yang turun menurun melakukan upacara ini. Jika tidak konon wanita itu dapat dipingit sehingga umpamanya si bayi lahir dan akan sangat menderita karenanya.

Bagi masyarakat Banjar Hulu Sungai khususnya menganggap bahwa ngka ganjil seperti 3,7, dan 9 bulan bagi yang hamil merupakan saat-saat yang di anggap sakral. Menurut kepercayaan Banjar, roh-roh halus selalu berusaha menganggu si ibu dan janin, karena menurut mereka bahwa wanita hamil 3 bulan itu beraroma wangi.

Pada masyarakat Banjar Batang Banyu telah diketahui ada suatu upacara yang disebut batapung tawar tian 3 bulan, menyusul kemudian dilaksanakan upacara mandi tian mandaring ketika kehamilan telah berusia 7 bulan. Tetapi pada masyarakat Banjar Kuala sampai saat ini hanya mengenal dan melakukan upacara mandi tian mandaring atau sering pula disebut mandi bapagar mayang. Dikatakan demikian karena upacara tersebut dikelilingi oleh benang yang direntangkan dari tiang ketiang dari tebu serta tombak jika ada, sehingga menyerupai raung persegi empat pada benang-benang tersebut di sangkutkan mayang-mayang pinang dan kelengkapan lainnya.

Upacara mandi dengan bepagar mayang ini kebasnyakan dilaksankan oleh tutus bangsawan atau tutus candi, tetapi kebanykan masyarakat biasa atau orang tidak mampu tetapi ingin melaksankan upacara ini, maka pelaksanaan cukup sederhana saja tanpa menggunakan  pagar mayang.

Selain upacara yang berupa mandi tersebut adapula beberapa upaya yang diusahakan oleh para orang tua untuk anak atau menantunya yang sedang hamil sebagai wujud sebuah penghargaan dari keluarganya agar ibu yang akan melahirkan kelak selamat dan tidak ada gangguan pada saat persalinan, upaya-upaya tersebut antara lain :
  • Mengingatkan anak menantunya yang sedang hamil untuk menghindari dari hal-hal yang bersifat pantangan(tabu)
  • Memberikan doa untuk dijadikan amalan selama kehamilan
  • Meminta dibacakan doa pada air tawar dari seorang tabib atau orang pintar
2. Beberapa Pantangan Dalam Masa Kehamilan
  • Tidak boleh duduk diambang pintu,dikhawatirkan susah melahirkan
  • Tidak boleh keluar rumah rumah pada waktu magrib, dikhawatirkan akan diganggu makhluk halus
  • Tidak boleh makan pisang dempet,dikhawatirkan anak lahir kembar siam
  • Jangan membelah kayu yang sedang terbakar dikhawatirak anak bisa sumbing
  • Jangan meletakkan sisir diatas kepala, di takutkan akan susah melahirkan
  • Dilarang masuk kehutan, karena wanita hamil menurut kepercayaan mereka baunya harum sehingga makhluk halus ndapat mengganggunya
  • Dilarang menyanyam bakul karena dapat berakibat jari-jari tangannya akan dempet jadi satu
Pantangan-pantangan tersebut di atas bukan hanya pada calon si ibu saja tetapi berlaku juga pada suaminya.

3. Upaya Memelihara Keselamatan dalam Kehamilan
  • Melakukan pemeriksaan kehamilan kepuskesmas
  • Melakukan pijatan atau dengan istilah Banjar "baurut" pada bidan kampung yang ahli dalam bidang pijat(urut)
  • Membatasi diri untuk tidak terlalu minum air es
  • Memperbanyak makan sayur dan buah
Upacara Mandi hamil
1. Nama Upacara
berbagai nama upacara mandi hamil salah satunya batapung tawar (memercikan air tapung tawar) , mandi tian, mandi baya, mandi bapapai dan badudus.
2. Waktu di andakannya Upacara
upacara mandi harus dilaksanakan pada umur kehamilan tujuh bulan atau tidak lama sesudahnya. upacara ini harus dilaksakan pada waktu turun matahari, yang biasa dilakukan sekitar jam 14.00 dan tidak pernah setelah jam16.00.
3. Tempat diadakannya Upacara
upacara ini dilaksanakan didalam pagar mayang yang telah disediakan terlebih dahulu.
4. Orang-orang yang terlibat dalam Upacara 
  • Orang tua dari kedua belah pihak baik ibu kandung maupun mertua
  • Saudara-saudara dan kerabat seperti julak (uwa), acil (bibi), dan lain-lain
  • Di pimpin oleh bidan kampung dan tuan guru yang membacakan doa selamat setelah upacara berakhir.
Selain pihak-pihak diatas masih ada yang terlibat dalam upacara tersebut, yaitu para undangan, wanita-wanita tetangga, umumnya terdiri dari ibu-ibu muda yang sudah kawin, Wanita-wanita tua yang hadir biasanya mereka yang banyak tahu tentang upacara ini atau karena untuk keperluan membantu bidan melaksanakannya. 

5. Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Upacara mandi hamil mengharuskan tersedianya 40 jenis penganan atau kue ( wadai ampat puluh). Mungkin sebenarnya berjumlah 41 atau bahkan lebih. Nama kue (wadai) antara lain : wadai apam, cucur, kawari, samban, kokoleh, wajik, nasi ketan, dodol, madu kasirat, pisang mahuli dan lain sebagainya.

Didalam pagar mayang atau ditempat upacara mandi yang akan dilaksanakan, ditelaktak parapen, dan berbagai peralatan mandi. Sebuah tempayan atau bejana plastik berisi air tempat merendam mayang pinang yang terurai, beberapa untaian bunga (kambang barenteng), sebuah tempat air yang lebih kecil berisi banyu baya, yaitu air yang dibacakan doa oleh bidan, bak yang berisi air yasin yang sering dicampuri banyu burdah. Selain itu pengamatan dalam pagar terdapat sebuah gelas berisi air sungai Kitanu untuk keperluan mandi ini terdapat juga kasai (bedak) temugiring dan keramas air asam jawa atau air jeruk nipis. Dahulu tempat duduk wanita hamil itu diletakakn sebuah kuantan ( gerabah) yang diletakkan menelungkup dan diatasnya diletakakn anyaman bamban.

Untuk keperluan mandi ini juga diperlukan piduduk (berisi beras dengan takaran tertentu, gula aren, kelapa tua yang masih utuh). Satu untuk diserahkan kepada bidan yang akan memimpin upacara dan yang membantu proses kelahiran, dan yang lainnya sebagai syarat upacara. Piduduk pertama juga dilengkapi dengan rempah-rempah dapur, sedangkan yang kedua dilengkapi dengan alat-alat keperluan untuk melahirkan.

6. Proses Upacara

wanita hamil yang akan mandi diharuskan memakai pakaian yang indah dan memakai perhiasan, duduk diatas lapik  diruang tengah sambil memangku sebutir kelapa yang bertunas yang diselimuti kain kuning menghadap sesajian wadai 40. Setelah beberapa lama duduk dengan disaksikan oleh para undangan wanita, wanita hamil itu turun kepagar mayang sambil menggendong kelapa bertunas tadi, dan ia akan menyerahkan kelapa yang dipangkunya kepada orang lain, bertukar pakaian dengan kain kuning sebagai basahan untuk mandi lalu duduk di atas anyaman bamban yang dibawahnya terdapat gerabah dan diharuskan gerabah tersebut pecah karena terduduki. Para wanita tua  yang membantu memandikan selalu berjumlah ganjil sekurang-kurangnya 3 orang paling banyak 7 orang.

Selanjutnya para pembantunya itu bergantian memercikan berkas mayang berkas daun balinjung dan berkas daun kaca piring kepadanya dan kadang-kadang juga kepada para undangan disekitar tempat mandi tersebut. Proses selanjutnya menyiramkan berbagai air lainnya yaitu banyu sungai kitanu, banyu baya, yang telah dicampur banyu yasin atau banyu doa dan banyu burdah. Setiap disiram pakai air-air tersebut si wanita hamil diminta untuk meminumnya sedikit. Sebuah mayang pinang yang masih belum terbuka dari seludangnya diletakkan diatas kepala wanita hamil tersebut lalu ditepuk sehingga pecah diharapkan sekali tepuk saja. Mayang dikeluarkan dari seludangnya lalu diletakkan diatas kepala wanita hamil dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turun dengan posisi mayang yang berbeda-beda. Kali ini airnya juga harus diminum oleh wanita hamil itu.

Kemudian diambil dua tangkai mayang dan diselipkan di sela-sela daun telinga si wanita hamil masing-masing sebuah. Lalu dua orang perempuan tua membantunya meloloskan lawai dari kepala sampai ujung kaki tiga kali berturut-turut. Untuk melepas lawai dari kakinya pada kali yang pertama ia melangkah kedepan, kali yang kedua  melngkah kebelakang dan terakhir kembali melangkah kedepan. 

Sesudah itu badannya dikeringkan dan ia berganti pakaian lalu keluar dari pagar mayang. Di luar telah tersedia sebutir telur ayan yang harus dipijakinya ketika melewatinya. Ketika keluar untuk kembali keruang tengah dalam rumahnya ini pula dibacakan shalawat beramai-rami. Diruang tengah si wanita hamil tersebut kembali duduk diatas lapik (alas) dihadapan para undangan disisiri dan disangguli rambutnya, Pada saat itu juga ditapung tawari, yaitu memercikan minyak likat (kental) baboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tapung tawar.

Setelah itu lalu dibacakan doa selamat oleh seorang hadirin. Sementara itu si wanita menyalami semua wanita yang hadir dan kembali kekamarnya, maka selesailah upacaranya.

7. Makna di Balik Upacara

Dalam upacara mandi ini dilambangkan kelancaran proses kelahiran dengan berbagai cara, yaitu :
  • Pecahnya kuantan tanah (gerabah) ketika diduduki melambangkan pecahnya ketuban
  • Pecahnya mayang dengan sekali tepuk saja menandakan proses kelahiran akan berjalan lancar
  • Proses kelahiran diperagakan dengan meloloskan lawai pada tubuh si wanita mengisyaratkan mudahnya proses tersebut
  • Pecahnya telur ketika dipijak juga melambangkan proses kelahiran yang cepat pula
  • Kelapa bertunas yang dipangku dan kemudian digendong melambangkan bayi
  • Memercikan air tapung tawar ialah gunanya memberkatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar